Lebih Baik Mencintai Daripada Dicintai


Dimasa lampau, istilah lebih baik dicintai daripada mencintai sangat keren. Sering dijadikan alternatif Pilihan saat merasa yg kita cintai tak bisa kita miliki. Pasti akan berfikir lebih baik dicintai daripada mencintai.
Sekarang. . Setelah sekian belas tahun akhirnya saya sadar istilah itu omong kosong.
Bayangkan saat kita dicintai seseorang dan memutuskan bersamanya sehidup semati. Namun pada perjalanan cinta itu akhirnya kitalah yang harus banyak berkorban, berkorban perasaan, waktu, uang, tenaga Dan semuanya. Dalam tanda kutip karena pasangan yang bilang mencintai kita itu tidak sanggup untuk melakukan pengorbanan Atas cintanya.
Apakah kita masih bisa bertahan dalam keadaan tertekan selama belasan tahun? Mungkin ada yang bisa bertahan,  karena alasan agama, anak atau apapun. Tapi tidak mungkin bisa dipungkiri rasa sakit itu akan terus membayangi.
Lain jika kita memang mencintai pasangan kita. Pengorbanan macam apapun akan terasa indah untuk dilakukan.
Itulah sebabnya, saya berfikir lebih baik mencintai daripada dicintai.

Menikahlah


Menikahlah dengan orang yang engkau cintai jika tidak menikah lah karena Alloh
Jika tidak karena keduanya maka jangan menikah.
Sebab menikah dengan orang yang dicintai baru bisa bahagia.
Sebab menikah tanpa cinta, jika berorientasi ke akhirat dan melakukan nya karena Alloh insyaalloh Alloh yang memberikan kebahagiaan.

Baru Niat Saja, Alloh Sudah Menjawab


Bismillah…..

baru niat saja, alloh sudah menjawab

Yups… baru niat saja, Alloh sudah menjawab. Apalagi jika dilaksanakan dengan bener… Eeits.. tapi tunggu, niatnya kudu yang baik tentunya.

Entah kenapa sudah beberapa minggu terakhir selalu sayang ngelewatkan tausiyahnya Mamah Dede, dan pagi tadi ga tahu kenapa (ah iya.. pasti ini hidayah dari Alloh)  lepas ndengerin Tausiyah Mamah Dede langsung terbersit satu fikiran yang fantastis, dan berniat dalam hati Continue reading

Anak BrokenHome


“Huhuhuuuuu huuuuu huuu ….” Anak itu masih menangis tak mau berhenti, Ical namanya. Dia datang dari seberang jalan. Duduk tepat di pojokan samping rumah Mertuaku. Tubuhnya basah kuyup karena hujan, dan terlihat menggigil.

“Ma… Mama.. itu ada a’ ical di depan, kasihan bajunya basah..” Dede’ anak lelakiku memangggilku untuk ke depan melihat kondisi Ical. “Ya Alloh…. Ical kenapa? ” tanyaku. Continue reading